Header Ads

Sesuatu Yang Retak Diantara Kita



Ikatan darah yang menghubungkan kita dengan orang lain adalah hubungan ideologis, sedangkan ikatan pemikiran dan emosional yang menghubungkan kita dengan orang lain disebut hubungan ideologis. Istilah ini disebutkan didalam hadits Rasulullah ﷺ,”Ruh itu adalah pasukan yang berbaris.”


Hubungan ideologis didalam Islam didasari dengan aqidah yang sama meskipun tidak lahir dari rahim yang sama, namun ikatan inilah yang merupakan autsaqul ‘uraal Islam (ikatan keislaman seseorang yang paling kuat) melebihi ikatan darah. Mengapa? Karena hubungan darah tanpa visi misi akhirat yang sama tidak cukup untuk untuk meraih syurga dengan seluruh kenikmatannya. Karena kita akan saling melupakan tanpa memberi syafaat di padang mahsyar kepada orang-orang yang kita cintai. “pada saat itu manusia sibuk dengan urusannya masing-masing.”


Generasi terbaik dahulu memberikan contoh bagaimana ikatan ideologis diatas aqidah yang benar lebih utama dari ikatan kekeluargaan yang dilandasi dengan kesyirikan. Ketika perang Badar memanas, seorang pemuda memacu kudanya dengan kencang menuju sisi padang pasir yang sepi untuk menghindari seseorang yang akan membunuhnya. Pemuda ini bukanlah seorang pecundang atau penakut, dirinya hanya tidak membunuh sosok yang menghunus pedang dibelakang kudanya itu, yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Pada akhirnya, demi kejayaan islam, pedang terhunus yang dibawanya menembus perut sang ayah yang memihak kepada orang-orang kafir. Siapakah pemuda pemberani tersebut? Dialah Abu Ubaidah bin Jarrah. Putra Al-Khattab, pria kebanggaan Allah dan rasul-Nya itu juga melakukan aksi heroik untuk membela Islam ketika sang paman yang masih kafir meregang nyawa atas perhitungannya di tanah Badar.


Maka, sebelum kita tak mampu memberi syafaat kepada keluarga kita di tempat peradilan nanti, di dunia ini ajaklah keluarga kita untuk saling menjaga agar tak ada ikatan yang retak dalam ikatan kekeluargaan, ajaklah keluarga kita untuk sama-sama melangkah diatas ikatan yang paling kuat, bukan hanya sekedar saudara sedarah, namun juga saudara seakidah. Wallahu a’lam. (Miftah/Marwah)

Tidak ada komentar