Header Ads

The Real VS Fake Santri

Jika anda mengalami patah tulang karena sebuah kecelakaan, ke dokter mana anda harus berobat? ke dokter spesialis jantung atau dokter spesialis tulang? Tentu bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena berobat ke dokter spesialis tulang adalah jawabannya. Dan apa yang akan terjadi jika seorang ahli mesin membedah seorang pasien usus buntu di ruang operasi? Bisa saja terjadi suatu tragedi karena salah bertanya dan salah penanganan (bukan oleh ahli).
Logika yang sangat mudah dipahami bahwa seseorang salah bertanya dan salah minum obat bukan mendapat kesembuhan malah mendapat mudharat yang lebih besar karena berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri. Dia tidak menggunakan standar operasional prosedur (SOP) yang tepat atau melenceng dari norma-norma yang berlaku. Dan bagaimana dengan konteks yang lebih luas dan berkaitan dengan banyak orang? Alih-alih memperbaiki kondisi ummat malah sebaliknya, karena tidak memakai prosedur yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda,“Barang siapa yang mendapat selain dari kebaikan maka janganlah menyalakan kecuali dirinya sendiri.”H.R Muslim. 
Belajar dari film The Santri yang tengah menjadi sorotan publik karena kontroversinya ini, nampaknya sabda Rasulullah ﷺ diatas sangat tepat untuk menggambarkan kondisi pasca peluncuran trailer film yang memicu banyak reaksi negatif masyarakat ini.
Prosedur apakah yang dilanggar oleh film yang disutradarai oleh Livi Zheng ini? Bukankah dari judulnya saja masyarakat tidak perlu berfikir keras tentang cerita apa yang akan disajikan oleh film ini? Namun, masyarakat Indonesia tentu masih bisa berfikir cerdas dan tidak mudah tertipu oleh alibi perfilman yang banyak mengandung unsur percintaan, Pluralisme dan menjadikan santri sebagai alat komersial. Ini adalah salah satu bentuk kesalahan prosedur yang cukup parah dan menggores hati para alumnus yang beralmamaterkan pondok pesantren. 
The real santri is not the fake santri, the real santri adalah orang-orang yang tahu kapankah hukum Wala’ wal Bara’ (loyalitas dan berlepas diri) ditegakkan sehingga mereka tidak pernah mendekati zona berbahaya seperti menjaga gereja atau yang lebih ekstrem hingga memberikan hadiah sebagai ungkapan rasa cinta. The real santri pasti sudah sangat akrab dengan dalil larangan ikhtilat, khalwat dan tabarruj yang sering dihafal di dalam majelis-majelis ilmu atau bahkan disela-sela waktu mengantri. Para santri bukanlah dokter ahli jantung yang akan membedah pasien usus buntu.
Sebuah syair berbunyi, tidak akan ada yang mengetahui rasanya jatuh cinta kecuali orang-orang yang merasakannya, maka tidak akan ada yang mengetahui rasanya menjadi santri kecuali orang-orang yang pernah menyantri. Pilihlah para pemain yang lebih tepat untuk berperan didalam sebuah kisah dengan bumbu-bumbu cinta monyet remaja atau bumbu-bumbu toleransi tanpa melibatkan para santri, dan jangan sampai makin banyak bermunculan the fake santri yang menodai citra the real santri karena dua dunia itu sungguh berbeda. (Miftah/Marwah)

Tidak ada komentar