Header Ads

Untuk Siapa Ibadahku?



“Fikri.. nak bangun nak..” Ibu menggoyang-goyangkan tubuh ku yang sedang terbaring diatas kasur. “Nak, Subuh ini udah hampir lewat setengah jam. Sudah setengah enam. Kamu ini..” ucap ibu. Perlahan aku mencoba untuk bangkit. Meluruskan tulang-tulang ku. Seketika aku kaget dan mataku terbelalak. Aku meraih kacamataku di meja samping tempat tidur “Hah? Sudah jam setengah 6? Bisa telat kerja nih.”
cemasku dalam hati. Akupun  bergegas mengambil handuk dan meluncur mandi. 15 menit kemudian aku telah rapih mengenakan kemeja lengkap dengan dasi dan sepatu yang sudah melekat di kaki. “Dan sekarang, tinggal sarapan deh” ucapku. Ibu sudah menghidangkan nasi goreng kesukaanku di meja lengkap dengan kopi hangat. Ibu menoleh kearahku dan berkata, “Eh anak ibu yang paling ganteng sudah rapih ya nak. Ayo makan ini sudah ibu siapkan.” Karena terburu-buru aku tanpa basa-basi langsung menyuapkan nasi goreng ke mulutku. Belum mendarat ke lidah ibuku tiba-tiba melotot dan berkata, “Eits.. Fikri kamu sudah sholat Shubuh nak?” Sontak aku terbelalak. “eh.. eh.. anu bu.. lupa” jawab ku sambil menyengir. “Kamu ini! Sholat cepat!” bentak ibu. “Loh bu. Udah siang memang bisa? Lagi pula aku mau ke kantor nanti telat.” Ucapku. “Tidak.. tidak.. pokoknya sekarang lepas sepatu kamu wudhu lalu sholat.” Ibu berkata dengan nada tinggi. Akhirnya, akupun bergegas sholat shubuh. Ya. Seperti biasa sholat kilat. Belum 5 menit selesai. Karena kesal dipaksa sholat oleh ibuku aku tak berniat pamit. Aku langsung berangkat ke kantor tanpa sarapan.
                                                                                                                                                                                

Ibu memang sangat dekat denganku mungkin ini karena aku anak tunggal. Apapun kejadian dalam hidupku aku pasti menceritakan kepada ibuku. Sedangkan ayah sudah meninggal sejak umurku 8 tahun karena kecelakaan kerja saat bertugas di luar kota. Aku juga tidak mengerti bagaimana kronologis kematian ayah. Yang aku tahu, polisi memutuskan untuk mengubur kasus ini dalam-dalam. Aku yang waktu itu masih anak-anak tidak mengerti dan ibu yang juga seorang janda yang tak berharta ini hanya bisa diam. Ibu mencoba untuk menanyakan kasus ini ke rekan kerja ayah pak Sandi. Namun, pak Sandi hanya bisa bungkam. Kini aku harus menjadi tulang punggung keluarga. Berat memang. Tapi mau dikata apa lagi inilah takdirnya. Sejak ditinggal ayah aku berubah. Dulu memang aku rajin sekali sholat berjama’ah di masjid. Bahkan tahajjud pun aku tak pernah bolong. Ayah yang selalu membangunkanku di kala hawa dingin menyerbu. Ayah tak pernah kenal lelah. Padahal ayah pulang kantor sudah larut malam. Itulah ayahku. Namun, kini ayah telah tiada. Entah mengapa diriku tiba-tiba saja berubah. Kesibukan kerja mengubah segalanya. Sekarang, sudah syukur aku sholat lalai. Biasanya dalam 5 waktu saja aku sulit. Aku sadar kalau diri ini sudah mengeras hatinya. Aku lebih mengejar uang,uang dan uang saja. Dunia terus saja menghimpitku. Belum lagi kantor tempat aku berkerja ini kurang memberikan fasilitas baik untuk tempat beribadah. Ya. Kantor aku dimana aku bekerja ini hanya memberikan ruangan petak 2x2 meter untuk sholat. Keran wudhunya pun jika kurang beruntung airnya tersendat-sendat. Memang untuk menjadi insan yang baik dan menjalankan perintah-Nya itu tak mudah.


Waktu makan siang datang ya. Hanya setengah jam saja waktu yang cukup untuk mengisi perut kosongku di kantin kantor. Lagi-lagi aku tak menghiraukan adzan dzuhur. Saat itu dipikiranku hanyalah lapar, lapar dan lapar. Bersama Hasan dan Arief aku biasa makan. “Bu.. mie ayamnya 3 ya. Tidak pakai sawi satu.” Teriak Hasan kepada ibu kantin. Arief memang tidak suka sayuran. Dia  berpikir sayuran itu tidak ada rasanya di lidah. Tak heran wajahnya begitu pucat dan mempunyai kantong mata yang hitam pekat.  Sama seperti aku, Hasan dan Arief juga tidak mempunyai jiwa yang religius. Mereka juga sering lalai dalam menjalankan ibadah sholat lima waktu. Jadi, kami lebih memilih menghabiskan 30 menit kami untuk makan ketimbang sholat dzuhur di mushola petak itu. Aku melihat ke arah jam stasiun, pulang kantor tepat jam 6. Ini saatnya sholat maghrib. Tapi, yang aku lakukan adalah berdesak-desakan di kereta dalam perjalanan pulang. Aku lebih memilih kereta ketimbang naik motor karena selain murah, akses kereta sangat terjangkau dengan perusahaan tempatku bekerja. Sampai dirumah pukul 8 malam. Ya. Benar sekali. Waktu dholat maghrib sudah habis. “Assalamu’alaikum ibu.. aku pulang!” teriakku. “Oh ya.. wa’alaikumussalam.. Fikri pasti kamu lelah ya nak. Cepat ganti pakaian ya. Selepas itu sholat Isya.” Ucap ibu. Untuk sholat Isya’ memang aku terbilang rajin.


Malam ini seperti malam biasanya. Ibu menjahit pakaian untuk dijual di salah satu butik di pasar. Dan aku membaca buku serial kesukaanku karena malam ini tak ada tugas dari kantor. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan 11 malam. Sepertinya ibu juga sudah tertidur pulas di kamar. Segera aku menuju kamar melepas kacamataku lalu tidur. Pagi ini, entah aku terbangun. Ku raih kacamata dan melihat ke arah jam dinding. “Hah? Baru pukul setengah tiga pagi?” aku kaget. Tiba-tiba perutku berbunyi. Dan baru saja aku teringat sebelum tidur tadi malam aku makan cemilan sangat banyak mungkin ini efek dari makan terlalu banyak sebelum tidur.

 Akupun turun dari ranjang lalu berjalan menuju dapur. Lapar. Aku membuka kulkas dan masih ada bolu buatan ibu. Tanpa basa-basi aku melahapnya. Tidak butuh waktu yang lama, cukup 5 detik saja bolu ini sudah masuk ke dalam kerongkonganku. Segera aku ambil segelas air putih lalu minum. “eeeeeeerrgh..” aku bersendawa. “hah baru jam 3. Tidur aja lagi ah..” pikir ku. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Saat aku berjalan menuju kamar tiba-tiba saja aku mendengar suara tangisan perempuan. Dalam sekejap bulu kudukku naik. Aku merinding. “iiiiiih apatuh.. jangan-jangan....” pikirku. Akan tetapi hati ini berkata lain. “Ah coba lihat barang kali maling.” Aku berpikir ulang. Ternyata suara itu berasal dari kamar ibu. Pintu kamar ibu sedikit terbuka. Semakin aku mendekat semakin jelas saja suara tangisan itu. Aku mengintip. Benar saja! Itu ibu yang menangis. Ibu menangis dalam do’anya. Rintihan itu, membuat hatiku tersentak. Ibu mendo’akan aku. Tiba-tiba aku teringat ayah. Ayah yang selalu memercikan air ke wajah. Aku berbalik badan. Malu. Ya, malu pada diriku sendiri yang tak pernah mendo’akan ibu. Padahal ibu selalu mendo’akan aku disetiap sepertiga malamnya.


Tok.. tok.. tok.. ibu mengetuk pintuku. Ibu berkata “Nak.. Fikri.. ayo nak bangun kamu telat nanti ke kantor..” Dengan cepat aku membuka pintu kamarku. Ibu sontak kaget. “Fikri? Kamu sudah rapih nak.”  Aku hanya membalas pertanyaan ibu dengan anggukan dan senyuman. “Hari ini aku harus berubah.” Tekadku dalam hati. Setidaknya aku harus bersyukur kalau aku sudah menjalankan sholat Shubuh tepat waktu. Sepanjang perjalanan aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa menghabiskan waktu dengan maksimal agar cukup untuk makan siang dan sholat Dzuhur. Sampai di kantor jam istirahat pun datang. “Rief, San.. kalian duluan saja. Ada hal yang harus aku selesaikan.” Aku berkata kepada mereka berdua. “Oh gitu sob.. oke..” Ucap Arief.  Akhirnya aku memutuskan untuk bergegas ke Mushola kantor. Air disini begitu tersendat-sendat. Keran airnya pun hanya dua buah saja. Sayang sekali untuk 300 orang karywan yang kerja disini. Selepas mengambil air wudhu aku memasuki ruangan 2x2 meter itu. Sungguh pengap. Walaupun yang sholat Dzuhur hanya satu dua saja. Selesai sholat aku melihat ada seorang wanita yang sedang merapihkan hijabnya. Rupanya ia juga baru saja selesai sholat Dzuhur. Aku terus memperhatikannya. Mengapa? Ah dia sungguh anggun dan menawan dengan hijabnya itu. Keluar mushola aku mengambil sepatu. Ternyata wanita itu juga bersamaan mengambil sepatu dan pundak kami bersentuhan. Sontak dia kaget. “eh.. eh.. maaf mbak..” ucapku dengan gagap terkesima melihat kecantikannya sedekat ini. “Oh.. iya gapapa.” Katanya dengan mata tak berani menatap.


Aku jalan menuju meja kerja. Entah mengapa aku sepanjang perjalanan memikirkan dia. Ya. wanita itu. Dia? Wanita itu, wanita secantik itu kerja di kantor ini. Kenapa aku baru mengetahuinya. Kenapa tidak dari dulu. Kalau saja dari dulu aku mungkin akan lebih rajin sholat Dzuhur di mushola kantor. “Ah sudahlah, pekerjaan masih numpuk gini..” pikirku. “ah tapi siapa ya namanya?” tanyaku dalam hati.


“Ibu aku pulang.. Assalamu’alaikum..” ucapku. “Wa’alaikumussalam nak..” jawab ibu. Aku langsung meletakkan sepatu di rak dan menyalin baju tidur. Saat aku sedang bersandar di sofa tiba-tiba saja ibuku bertanya, “Loh fikri.. kok kamu pulang malam sekali nak? Ada rapat ya?” aku menjawab, “em.. iya bu.. tadi ada urusan sebentar jadi lembur..” Sebenarnya yang aku lakukan itu sholat Maghrib dikantor. Dan mau tidak mau aku harus ketinggalan kereta jadwal pertama yang datang pukul 6 sore lewat 15 menit. Akhirnya aku harus rela naik kereta yang datang pukul 7 malam lewat 30 menit. Ya lumayan. Bisa sholat Isya’ di stasiun. Sehari, dua hari, sepekan pun berlalu. Aku melewati hari-hari dengan menjalankan sholat lima waktu. Rasanya sungguh membahagiakan. Hatiku tenang. Hari kedelapan aku terus mencoba untuk mengistiqomahkan diri ini. Waktu istirahat makan siang pun datang. Seperti biasa aku memilih membawa bekal sejak aku memutuskan untuk sholat Dzuhur di mushola kantor. Ya. Aku sholat dan aku bertemu dia. “MasyaAllah..” puji ku dalam hati. Rasa-rasanya aku menemukan sesuatu yang berbeda. Bisa dibilang sambil menyelam minum air. Sudah dapat pahala dapat jodoh pula.


Arief dan Hasan kini sungguh berbeda. Mereka kini jauh dariku. Aku tidak bisa membayangkan kenapa hal ini bisa terjadi. Mereka enggan menyapaku seperti dulu. Hasan sempat bertanya mengapa aku tidak mau makan siang bersama lagi seperti dulu, namun Hasan mengerti pilihan aku untuk menaati perintah Allah ta’ala. Ya, menjalankan sholat 5 waktu. Hingga akhirnya hari ini Arief mengajakku berbicara. “Kri, gue sekarang tau kenapa lu lebih milih menghabiskan waktu istirahat lu itu ke mushola, hayolah kenapa gak cerita-cerita si kri.. kita kan temen lu dari awal lu kerja disini juga.” Aku tak mengerti apa yang Arief pikirkan. Wajahku mendadak kebingungan. Hasan menimpali, “Iya kri.. gue kira lu beneran tobat, eh ternyata... ada udang dibalik batu..hahaha!” “Loh maksud lu pada apaan sih? Gue jadi bingung deh?” Jawabku dengan bingung. “Haha, udeh ngaku aje lu.. kan elu sengaja kan sholat terus PDKT sama si Nurul?.” “Nurul? Siapa dia?” tanyaku. “Wah, lu tiap hari ngobrol tapi gak tau namanya? Sadis juga lu ya!” goda Hasan. “Iye.. gue mergokin elu tiga hari ini.. dan ternyata gue liat elu suka duduk di tangga deket mushola sama si Nurul..” Arief menambahkan. Oh ternyata namanya Nurul. 

Ya memang aku tak pernah mempunyai keberanian untuk bertanya namanya, sejak awal pertemu aku memang sering mengajaknya berbicara. Hanya sebatas urusan kantor. Tidak lebih. Aku belum mempunyai keberanian untuk bertanya namanya. Tapi mereka benar. Aku semakin semangat sholat di mushola karena dapat bertemu dengannya setiap hari. Melihat senyumannya merekah. Ah, sangatlah indah. “Hey, sob..” Hasan menepuk pundakku. Lalu berkata, “Lu tapi berani juga ya? dia itu, anak bos kita disini. Pak direktur utama. Iya pak Indra Wardhana. Gak ada lho yang berani deketin dia apalagi ngajak ngobrol.” Seketika aku pasrah. Pupus sudah harapanku aku mencintai orang yang salah. Apalah aku hanya manusia biasa harta saja tak punya. Hari demi hari aku lewati ternyata Nurul sangat baik hati. Dia juga terlihat nyaman saat bersamaku. Kami sering makan siang bersama lepas sholat Dzuhur. Aku semakin dekat dengannya. Mungkin besok aku akan menyatakan perasaan ku ini.

Malam itu aku pulang ternyata ada sosok laki-laki paruh baya datang kerumah. “Ada apa gerangan?” Tanyaku dalam hati. Aku menyapanya, “Assalamu’alaikum bapak..”  lalu laki-laki itu berkata “Wa’alaikumussalam nak.. wah ini Fikri ya, sudah besar ya, sudah ganteng sekali. Mirip ayahmu..” suara itu.. ya. Suara itu adalah suara pak Sandi.  Ada apa gerangan beliau malam-malam seperti ini datang ke rumah. Apakah pak Sandi akan membahas kematian ayah? Tapi kenapa tiba-tiba seperti ini? Ibu datang membawakan secangkir teh hangat untuk pak Sandi. Ibu pun berkata, “Baguslah nak, kamu sudah pulang.. mari pak Sandi dilanjutkan ceritanya.” Pak  Sandi pun melanjutkan ceritanya. “Iya beliau sebelum wafat alhamdulillah diberikan kenaikan pangkat sebagai managerayahmu itu.. orang yang sangat taat dalam menjalankan ibadah. Kapanpun dan dimanapun. Tidak ada rapat jika masuk waktu sholat. Ya, benar memang saat itu kami sangat menyeganinya. Walaupun kami tetap rekan kerja bagi beliau. Jarang sekali menemukan sosok seperti beliau. Hingga pada akhirnya, dia datang ya. Orang itu yang mengambil alih perusahaan kami. Menjabat sebagai direktur utama perusahaan.  Sepertinya dia tidak suka dengan ayahmu itu nak.” Pak Sandi menghela nafas. Aku sangat serius menanggapi cerita beliau. Pak Sandi melanjutkan, “Sudah pak direktur tidak suka dengan ayahmu ditambah lagi dengan beliau menganggap ayahmu itu sok alim. Sok rajin ibadah. Berbeda sekali dengan pak direktur yang suka sekali melalaikan sholat. 

Pak direktur tetap memerintahkan kami untuk melaksanakan rapat di saat waktu sholat. Ayahmu lebih memilih sholat dan tidak ikut rapat. Kami semua mengetahui kalau pak direktur sangat tidak menyukai ayahmu nak. Hingga pada akhirnya ada suatu kejadian. Ya kejadian inilah yang membuat ayahmu itu meninggal. Ketika itu perusahaan kami sedang terjadi krisis moneter. Kami sangat membutuhkan investor. Saat itu ayahmu ditugaskan untuk menemui investor tersebut disebuah restoran. Adzan maghrib berkumandang. Ayahmu menyuruh investor tersebut untuk menunggu. Ya. investor tersebut berkata iya untuk menunggu. Akan tetapi.. setelah sholat maghrib ayahmu kembali ternyata investor tersebut menghilang. Dan laptop ayahmu itu berisi dokumen penting dicuri. Ayahmu sungguh terkejut dan menelponku menceritakan kejadian ini.” Tiba-tiba pak Sandi meneteskan air mata. “Tak apa pak jika bapak tidak kuat tak usah dilanjutkan.” Aku menenagkan pak Sandi. Akhirnya pak Sandi memutuskan untuk pulang ke rumah karena memang sudah sangat larut malam.


Kami memang sudah tabah menghadapi 15 tahun meninggalnya ayah. Pak Sandi juga sudah berjanji jika beliau sudah siap beliau akan mengungkapkan semua kepada kami berdua. Akhirnya kemarin ia memutuskan untuk datang kerumah kami. Keesokan harinya, Pak Sandi datang kembali kerumah kami. Saat itu hari Sabtu jadi aku libur kerja. Pak Sandi melanjutkan ceritanya. “Bu, Fikri.. saya akan melanjutkan cerita yang kemarin..” pak Sandi berkata. Aku menjawab “Baiklah pak silahkan..” lalu pak Sandi melanjutkan ceritanya, “Iya nak, saat itu bapak kamu menelpon bapak. Bapak kamu sudah pasrah atas kejadian yang menimpanya saat itu. Beliau memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Dan saya telah di telpon bapak kamu untuk menjemputnya. Sampai di depan restoran ternyata restoran tersebut sudah tutup. Saya sangat terkejut melihat ayah kamu sudah tertusuk pisau dan tergeletak di parkiran. Saya panik bu.. nak..” Ibu tiba-tiba bertanya, “Lalu, apa yang bapak lakukan? Apa bapak diam saja?” pak Sandi menjawab “Tidak saya langsung berteriak minta pertolongan, tetapi tidak ada seorang pun disana. Lantas saya mencoba menopang tubuh bapak kamu dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Alhasil nyawa bapak kamu tidak tertolong karena kehabisan darah.” “Innalillahi, jadi seperti itu..” ucap ibu. Kemudian aku bertanya “Pak, apakah bapak tahu siapa dalang dibalik semua ini? Siapa yang menusukan pisau ke perut ayah?” “Kalau yang menusukan pisau saya tidak tahu siapa persisnya, hanya saja dia sangat cerdik sehingga tidak bisa dilacak oleh polisi. Kerjanya sangat bersih. Sehingga polisi memutuskan untuk mengubur kasus ini” jawabnya.


Air mata ibu yang selama ini tabah sekali dalam menghadapi ini kini menetes juga. Ibu sesegukan. Aku menenangkan. “Bu, apa ibu kuat untuk mendengarkan semua ini?” tanyaku kepada ibu. Ibu menggelengkan kepala dan langsung saja aku menggandeng ibu ke kamar dan memberikan segelas air putih untuk menenangkannya. Aku berkata pada ibu “bu, biar aku saja yang mendengarkan ini semua.” Lalu aku beralih ke pak Sandi di ruang tamu. “bagaimana ibumu?” cemas pak Sandi. “tidak apa pak. Hanya shock mendengar bagaimana ayah bisa meninggal.” Jawabku. Pak sandi berkata, “Nak, sebenarnya seminggu setelah kematian ayahmu perusahaan tiba-tiba saja normal kembali. Bapak juga bingung tetapi bapak sangat bersyukur. Malamnya bapak kerja lembur dikantor, bapak melihat ruangan pak direktur masih menyala. Setelah bapak lihat dari jendela, ternyata pak direktur masih diruangan. Disana ada dua orang pemuda bertubuh atletis. Bapak mencoba menempelkan telinga bapak. Mendengarkan lebih jelas percakapan mereka. Pak direktur memberikan amplop tebal berisi uang. “kerja bagus kalian telah membunuhnya tanpa jejak. Kalian sudah tidak diragukan lagi kerjanya.” Kata pak direktur saat itu yang saya dengar. “ja.. ja.. jadi.. yang membunuh ayah pak direktur?” aku menyimpulkan. “iya nak, pak direkturlah yang membuat semua skenarionya, dia mengada-ngada tentang krisis moneter dan ialah yang membayar orang untuk membunuh ayahmu dan itu sengaja dilakukan saat ba’da sholat maghrib.” Ucap pak Sandi dengan mulut bergetar.  Lalu pak Sandi melanjutkan “maafkan bapak nak, bapak sudah coba menghubungi polisi untuk memberitahukan kejadian ini. Namun polisi mengelak karena bukti atas kejadian ini tidak ada. Mungkin saja pak direktur telah menyuap polisi nak. Ah sudah nak kita sudah terlambat. Kamu sudah mengikhlaskan bukan?” aku tercengang. Ikhlas? Siapa yang ikhlas jika ayah kandungnya dibunuh dengan kejam hanya karena kecemburuan sosial. Aku bertanya kepada pak Sandi. “pak kalau boleh tau, siapa nama direktur keji itu?” pak Sandi pun hening sejenak sepertinya dia berpikir keras apakah yakin untuk memberikan nama itu kepadaku.


Namanya, pak Indra Jaya Wardhana. Dunia terasa terbalik ketika aku mendengar nama itu. Itu adalah nama yang sama dengan pak direktur yang menjabat di kantor ku sekarang. Dan.. dan dia adalah ayah dari perempuan yang ku taksir. Semenjak hari itu aku mulai menghindari Nurul. Sepertinya Nurul juga bingung atas sikapku ini. Aku jadi jarang sholat Dzuhur. Hatiku sangat sakit. Kembali ke awal. Aku mulai makan di kantin bersama dengan Arief dan Hasan. Rasanya malas membawa bekal dari rumah. Aku jadi malas beribadah.


Aku bangun kesiangan lagi hari ini. Dulu ibu sempat senang aku mulai rajin beribadah. Kini, ibu kecewa dengan ku karena mulai susah lagi bangun Shubuh. Ibu heran dengan sikapku yang berubah. Hingga suatu hari Nurul memberanikan diri untuk menelponku. “Assalamu’alaikum, ha.. ha.. halo? Dengan Fikri?” aku kaget mendengar suaranya. “wa’alaikumussalam. Iya ada yang bisa dibantu?” jawabku. Tiba-tiba Nurul menutup panggilannya. Dia wanita yang sangat terhormat. Mungkin dia malu untuk menelpon laki-laki duluan. Pikirku saat itu. Ada apa gerangan Nurul menelponku. Apa dia rindu? Ah tidak mungkin. Aku bukan siapa-siapa baginya.


Hari ini ada urusan kantor mendadak. Aku lembur. Pulang jam 10 malam saat itu aku lupa memberi kabar kepada ibu. Saat tiba dirumah ibu tertidur di sofa. Sepertinya ia menunggu kepulanganku. Seketika aku melihat di meja depan sofa terletak sebuah album foto. Disana ada foto ayah sedang berpakaian ihrom. Rupanya ayah sedang umroh. Dibalik foto itu ada tulisan. “Semua lillahi ta’ala” kata-kata itu membuat hatiku tersentak. Aku merasa sangat amat tersindir. Mengapa? Sholatku jadi seperti ini hanya karena menghindari perempuan? Memangnya sholatku untuk siapa? Untuk dia apa untuk Allah? Malam ini Allah telah mengingatkanku yang jalannya lewat foto ayah ini. Tanpa terasa air mataku menetes. Aku membulatkan tekad sesulit apapun, sesibuk apapun akan kulakukan ibadah tepat waktu. Ya. lillahita’ala. Bukan untuknya.





Nuha Bilqisti

Tidak ada komentar